12 Desember 2015

Eksotika Alam Baturaden

Baturaden adalah salah satu obyek wisata yang menjadi andalan di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Sejak tahun 1928, Baturaden dikenal sebagai obyek wisata pegunungan. Pengunjung bisa menikmati keindahan pemandangan alam dan udara pegunungan yang sejuk dengan suhu antara 18°C-25°C. Dalam kondisi cuaca yang bagus dan cerah, pemandangan Kota Purwokerto, Nusakambangan, dan pantai Cilacap dapat terlihat dengan jelas dari puncak Baturaden.

Ilustrasi Eksotika Alam Baturaden - Travelwan

Baturaden memiliki pemandian yang dipercaya menyembuhkan berbagai penyakit, yaitu Pancuran Telu. Baturaden pun memiliki kolam sumber air murni, Telaga Sunyi. Baturaden sendiri juga memiliki banyak obyek wisata yang menarik dikunjungi seperti : Taman Bitanin yang memiliki beragam tanaman dan bunga langka, di antaranya bunga havana, daun dewa, antarium lipstick, palem paris, dan widoro laut yang tak hanya dipamerkan, juga dijual sebagai souvenir.

Baturaden juga menyediakan beragam wisata kebudayaan seperti : grebeg syura yang diadakan setiap bulan pertama dalam kalendar tahun Islam, pertunjukan musik calung, dan tari tradisional lengger, pertunjukan bernuansa mistis yakni kuda lumping, serta sadranan sebagai upacara mengunjungi situs suci, biasanya kuburan yang juga disebut kenduren oleh masyarakat sekitar. Baturaden berasal dari dua kata yaitu Batur yang dalam bahasa Jawa berarti Pembantu, Teman, atau Bukit dan Raden yang dalam bahasa juga berarti Bangsawan. Cerita tentang Baturaden ada dua versi yaitu Kadipaten Kutaliman versi Syekh Maulana Maghribi

Kadipaten Kutaliman – Pada Ratusan tahun silam konon terdapat sebuah Kadipaten yang terletak 10 Km disebelah Barat Baturaden. Adipatinya mempunyai beberapa anak perempuan seorang gamel (pembantu yang menjaga kuda). Salah Satu Anak Perempuannya jatuh cinta dengan gamel. Cinta mereka dilakukan secara sembunyi-sembuyi. Sesudah mendengar berita, bahwa anak perempuannya jatuh cinta dengan pembantunya, sang Adipati marah dan mengusir gamel dan anak perempuannya dari rumah. Diperjalanan dia melahirkan bayi didekat sungai, kemudian mereka menamakannya sungai Kaliputra. (Kali berarti Sungai Putra berarti anak laki-laki).

Letaknya kira-kira 3 Km sebelah utara Kutaliman. Akhirnya mereka menemukan tempat yang indah, memutuskan untuk tinggal di tempat tersebut. Berdasarkan versi pertama tersebut nama Baturaden seharusnya ditulis dengan dua "R" karena versi tersebut berasal dari kata "Batur" "Raden" menjadi "Baturaden". Syekh Maulana Maghribi – Syekh Maulana Maghribi adalah seorang ulama. Dia seorang Pangeran dari Turki. Suatu hari setelah Subuh, dia melihat cahay misterius bersinar disebelah Tenggara. Dia ingin mengetahui darimana cahaya misterius itu datang apa artinya. Dia memutuskan untuk mencari tahu. Dia ditemani oleh sahabatnya, Haji Datuk dan pekerjanya. Mereka berlayar menuju kearah datangnya cahaya misterius tersebut.

Kemudian setelah Syekh Maulana Maghribi sampai di Pantai Gresik, cahay misterius tersebut tampak disebelah Barat, akhirnya mereka sampai di pantai Pemalang Jawa Tangah. Ditempat ini Dia meminta para pekerjanya untuk pulang. Sementara itu dia ditemani oleh Haji Datuk untuk melanjutkan perjalanannya dengan jalan kaki menuju kearah Selatan sambil menyebarkan agama Islam. Kemudian Syekh Maulana Maghribi tinggal di Banjar Cahayana. Ditempat itu Dia terkena penyakit gatal yang serius dan susah disembuhkan. Sesudah sholat Tahajud.dia mendapat Ilham bahwa dia harus pergi ke Gunung Gora. Sesudah sampai di lereng Gunung Gora Dia meminta Haji Datuk untuk meninggalkannya dan menunggu ditempat yang mengepulkan asap.

Ternyata disitu ada sumber air panas dan Syekh Maulana Maghribi menyebutnya "Pancuran Pitu" yang artinya sebuah sumber air panas yang mempunyai tujuh mata air. Setiap hari Syekh Maulana Maghribi mandi secara teratur di tempat itu, dengan begitu dia sembuh dari penyakit gatalnya. Orang sekitar menyebut Syekh Maulana Maghribi sebagai "Mbah Atas Angin" karena Dia datang dari sebuah negeri yang jauh. Dan Syekh Maulana Maghribi dinamakan Haji Datuk Rusuhudi ( Dalam bahasa Jawa berarti Batur yang Adil atau Pembantu Setia).

Tempatnya terkenal dengan satu "R" dan bernama "Baturaden". Karena Syekh Maulana Maghribi sembuh dari penyakit gatal dan aman dilereng gunung Gora. Dia mengganti nama Gunung Gora itu menjadi Gunung Slamet. Slamet dalam bahasa Jawa berarti aman. Tempat dimana Syekh Maulana Maghribi sembuh dianggap sebagai tempat keramat oleh orang sekitar. Banyak orang dari Purbalingga, Banjarnegara, dan Pekalongan mengunjungi tempat tersebut pada Selasa Kliwon dan Jum’at Kliwon.

Sumber: kaskus.co.id
Tidak ada komentar: